Makalah Pengantar Public Relation: STRATEGI PUBLIC RELATIONS SEBAGAI SISTEM MANAJEMEN, SISTEM PEMASARAN DAN PROBLEM SOLVER

on Selasa, 06 Mei 2014
STRATEGI PUBLIC RELATIONS SEBAGAI SISTEM MANAJEMEN, SISTEM PEMASARAN DAN PROBLEM SOLVER
(Studi Kasus Pada “Speedy” PT. Telkom Indonesia)


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Speedy merupakan layanan broadband akses internet dari Telkom Indonesia bagi perumahan serta SME (Small Medium Enterprise). Speedy menggunakan teknologi ADSL (Asymmetric Digital Line Subscriber), MSAN (Multi Service Access Node), dan GPON (Gigabit Passive Optical Network), yang menghantarkan sinyal digital melalui jaringan telefoni secara optimal bagi keperluan konsumsi konten internet, dengan kecepatan data dari 384 kbps hingga 100 Mbps.
Pada Tahun 2004, Perusahaan ini mengalami sebuah kasus yang cukup membuat citra mereka buruk, khususnya bagian Divisi Regional II Jakarta yang membawahi daerah DKI Jakarta dan sebagian wilayah Jawa Barat. Kasus ini menjadi sangat hot saat Speedy pertama kali di lauching tahun 2004 di Jakarta. Bahkan dari 10.000 pelanggan, ada 3.100 pelanggan yang menyatakan complain dan mengancam akan melakukan class action (upaya penyelesaian sengketa hukum masyarakat dengan pihak tertentu, misalnya negara atau BUMN) atas kekacauan sistem billing Speedy yang mengakibatkan melonjaknya jumlah tagihan mereka.

B.     RUMUSAN MASALAH
Permasalahan-permasalahan yang akan kita kupas pada bab pembahasan adalah:
·         Apa saja peran PR dalam masalah ini?
·         Apa saja yang dilakukan PR dalam menyelesaikan masalah ini?

C.    TUJUAN
1.      Menjelaskan Tahap / Proses Public Relations
2.      Menekankan peran PR sebagai Sistem Manajemen
3.      Menekankan peran PR sebagai Sistem Pemasaran
4.      Menekankan peran PR sebagai Problem Solver



BAB II
TEORI DAN KAJIAN LITERATUR

A.    KEDUDUKAN DAN PERAN PR “TELKOM SPEEDY”
Public Relations (PR) mempunyai keterlibatan penuh untuk memperkuat komunikasi dengan kalangan eksternal dan internal suatu instansi baik pemerintahan maupun swasta. Begitu pula dengan PR Telkom Speedy, beliau selalu dilibatkan dalam segala hal yang berhubungan dengan menjaga reputasi perusahaan dimata khalayak internal pada umumnya, dan eksternal pada khususnya, disesuaikan dengan ruang lingkup pekerjaan dan tanggung jawab beliau sebagai seorang praktisi PR. Adapun peran Public Relations menurut Dozier & Broom antara lain :
a.      Penasehat Ahli ( Expert Prescriber )
Seorang Public Relations yang berpengalaman dan memiliki kemampuan tinggi dapat membantu mencarikan solusi dalam penyelesaian masalah hubungan dengan publiknya (Communicator Fasilitator ).
b.      Fasilitator Komunikasi ( Communication Fasilitator )
Dalam hal ini, Public Relations bertindak sebagai komunikator atau mediator untuk membantu pihak manajemen dalam hal mendengar apa yang diinginnkan dan diharapkan oleh publiknya.
c.       Fasilitator Proses Pemecahan Masalah ( Problem Solving Process Fasilitator )
Peranan Public Relations dalam pemecahan masalah persoalan Public Relations ini merupakan bagian dari tim manajemen. Hal ini dimaksudkan untuk membantu pimpinan organisasi baik sebagai penasihat ( adviser ) hingga mengambil rindakan eksekusi (keputusan) dalam mengatasi persoalan atau krisis yang tengah dihadapi secara rasional dan profesional.
d.      Teknisi Komunikasi ( Communication Technician )
Peranan communications technician ini menjadikan Public Relations sebagai journalist in recident yang hanya menyediakan layanan teknis komunikasi atau dikenal dengan of communication in organization.[1]
B.     BUKTI KOMPLAIN MASYARAKAT KEPADA “TELKOM SPEEDY”
Beberapa e-mail dari pelanggan Speedy sampai di redaksi detikcom. Ada yang telah mengalami kejanggalan koneksi sejak Oktober lalu. Seorang pelanggan Speedy bernama Bangga mengaku telah mendapatkan kejanggalan sejak bulan pertama berlangganan Speedy. Bangga mulai belangganan sejak Oktober 2004. Berikut e-mail Bangga: 
From: "Bangga@Indonesia" 
Saya baru berlangganan Speedy selama 3 bulan. Pada bulan pertama pemakaian (Oktober 04) jumlah pemakaian sebesar 1.418 MB padahal kuota saya cuma 500 MB (megabyte -red.), hal ini sangat-sangat tidak wajar dan tidak mungkin. Saya sudah mengirim e-mail komplain ke Speedy namun sampai sekarang tidak ditanggapi. Terlihat dari pemakaian saya di bulan kedua cuma sebesar 445 MB, bulan ke tiga (masih 3 minggu) pemakaian baru 315 MB. Padahal intensitas pemakaian sama-sama saja alias normal (saya sudah 10 tahun pakai internet di rumah). Hal ini cocok atau sesuai dengan pencatatan software (dowload/upload, send/receive) yang saya pasang untuk memonitor pemakaian internet. Software monitor ini saya install setelah adanya hasil yang tidak mungkin di bulan pertama. Ini terlihat Speedy tidak siap sama sekali dengan layanan ADSL ini, termasuk tidak adanya costumer service yang pasti karena setiap telpon pasti di oper-oper ke nomor-nomor lain.
Terima kasih, Bangga. 
Pelanggan lain, bahkan sudah terlanjur membayarkan tagihan Speedy. Ini disebabkan pembayaran dilakukan dengan autodebet. Berikut e-mail dari anak pelanggan tersebut: 
From: "Yankeez" 
Mohon bapak Hatta berpikir jernih dengan statement berikut: "Sedangkan untuk tagihan yang sudah dibayarkan, Hatta berujar Telkom tidak bisa berbuat apa-apa. Ia berspekulasi hal itu berarti pelanggan sudah mensepakati nilai yang ditagihkan." Mohon maaf karena ayah saya selalu berpikiran baik kepada Telkom dengan membayar tagihan dengan autodebit, maka tidak bisa Anda berkata demikian. Terima kasih.
Hampir semua pelanggan Speedy mengalami ini, pemakaian sebesar 32 megabyte terjadi berulang-ulang untuk durasi yang tidak wajar. Berikut salah satu keluhan itu:
From: Sujanto
Kami juga mengalami hal yang sama, pada rincian yang kami peroleh terdapat kejanggalan sebagai berikut : Untuk waktu 9 detik kami dicharge 32 MB (berulang-ulang) dan beberapa rincian janggal lainnya (jika kita melakukan perhitungan sederhana kecepatan download dari plasa.com tes bandwidth lebih kurang 43 Kilobytes per detik). Telkom telah menyatakan data yang dapat digunakan adalah data pada situs Plasa.com, tetapi hingga saat ini kami tidak bisa melihat rincian penggunaan speedy kami pada Plasa.com. Setiap kami login selalu kembali ke-halaman login tanpa ada keterangan error login. Kami telah melakukan cross check ke Telkom (147) dan menyatakan tagihan speedy belum dapat dilihat secara on-line.
Regards, Sujanto pelanggan speedy.[2]



C.    PERAN PR DALAM MENGATASI MASALAH YANG DI ALAMI “TELKOM SPEEDY”
Public Relations adalah manajemen reputasi organisasi. Public Relations mengidentifikasi persepsi yang dipegang oleh organisasi dan member informasi mengenai kinerja organisasi kepada semua audiens yang relevan. Public Relations menyangkut pengembangan reputasi yang pantas untuk sebuah organisasi, yang didasarkan pada kinerja. Reputasi ini tidak harus baik, tetapi hanya yang pantas yang diperoleh organisasi ini.[3]
Dalam masalah ini PR harus menyelesaikannya menggunakan Proses Public Relations, yaitu Facts Finding (Pengumpulan Data/Fakta), Action Plan/Planning (Perencanaan), Communicating (Komunikasi), dan Evaluating.

a)      Facts Finding
Pertama-tama dengan mengumpulkan fakta-faktanya terlebih dahulu, atau biasa kita sebut facts finding. Berikut fakta-fakta pendukung atas kasus tersebut:

1.      Pengaduan keberatan atas tagihan yang dibebankan tidak sesuai dengan pemakaian, pertama kali dilakukan oleh Godot Praesta kepada pihak Telkom pada Oktober 2004.
2.      Pengaduan selajutnya dilakukan oleh Adele Mailangkay yang mengalami hal serupa, dan banyaknya complain terhadap tagihan Speedy yang tidak mendapat tanggapan memuaskan dari pihak Telkom.
3.      Terdapat 3100 pelanggan yang mengajukan komplain dari total 10000 pelanggan Speedy di wilayah Divre II.
4.      Kutipan hasil wawancara dengan Mohammad Hatta, manajer produk non pots Divre II: “misalnya pengguna Speedy kelebihan 200 Kilobyte (0,2 Megabyte) karena system tidak dapat menampung jumlah digit tersebut maka akan dibulatkan menjadi 1 Megbyte yang dilakukan secara terus menerus untuk setiap kelebihan pemakaian. Masalah ini yang kemudian menyebabkan tagihan akhir menjadi membengkak”.
5.      Usulan ICT Watch kepada pelanggan Speedy untuk melakukanclass action, yakni upaya penyelesaian sengketa hokum masyarakat dengan pihak tertentu, misalnya Negara atau BUMN (Badan Usaha Milik Negara).
6.      Banyaknya e-mail yang masuk di Redaksi detik.com sejak Senin, 20 Desember 2004 yang menyatakan keluhannya terhadap layanan Speedy.
7.      Berita yang dimuat di detik.com pada Selasa, 21 desember 2004 pukul 16.22 WIB mengenai laporan pengaduan dari pelanggan Telkom Speedy kepada YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia), dan berbagai berita serupa lainnya yang dimuat di koran nasional, koran lokal, televisi, media online, dan sebagainya.

b)      Action Plan/Planning
Setelah proses facts finding, Telkom kemudian menindaklanjutinya melalui tahapan manajemen krisis/perencanaan, atau yang biasa kita sebut dengan planning/action plan, yakni:
1.      Tahap Identifikasi
Melakukan riset tentang masalah Speedy baik dari internal public maupun eksternal public. Terutama dengan melakukan observasi kepada pelanggan baik berupa saran, keluhan, dan hal lainnya melalui kotak saran, menyebarkan kuisioner kepada pelanggan maupun membuat kliping surat kabar untuk mengetahui perkembangan isu tentang Telkom di media.
2.      Tahap Analisis
Tahap berikutnya yakni menganalisis data-data yang telah diperoleh pada proses identifikasi, baik melalui media cetak seperti pembuatan kliping-kliping maupun melalui media elektronik dengan mengandalkan milis pelanggan, baik yang ada pada milis AWARI, plasa.com, maupun milis lainnya yang masih dalam konteks Telkom. Analisis dimulai dari penyebab terjadinya kasus, waktu berjalannya kasus, bagaimana respon masyarakat, hingga bagaimana situasi dan kondisi yang sebenarnya. Dengan kata lain, yakni membuat kronologis kasus sehingga bias lebih mudah untuk memperkirakan strategi apa yang seharusnya digunakan untuk menangani kasus tersebut.




3.      Tahap Mengisolasi Krisis
Hal ini dilakukan untuk menghindari munculnya krisis baru karena semakin merembetnya kasus. Pada tahapan ini, pusat krisis dalam manajemen perusahaan memegang peranan penting untuk memberikan informasi kepada publik terutama pelanggan dan media sekaligus menjaga arus informasi yang masuk atau keluar agar tetap sesuai dengan yang diharapkan.
4.      Tahap Pelaksanaan Strategi
Strategi yang akan digunakan untuk penyelesaian kasus ini, yaitu Strategi Adaptif karena strategi tersebut adalah strategi yang paling tepat memiliki resiko yang tidak terlalu besar dibandingkan dengan strategi lainnya. Karena penyebab masalah ini adalah sistem billing Speedy, maka langkah pertama yang dilakukan adalah mematikan semua koneksi Speedy para pelanggan, untuk menghindari kerusakan yang lebih banyak lagi. Selanjutnya dengan melakukan perbaikan dan modifikasi ulang sistem Speedy dalam waktu 12 hari, dimulai dari dikeluarkannyarelease yang ditandatangani langsung oleh Kadivre. Langkah ketiga yakni, untuk menghindari class action dari pihak pelanggan maka akan dihitung ulang semua tagihan Speedy yang bermasalah. Jika memang ditemukan adanya kesalahan tagihan, maka akan dikembalikan semua kelebihan tagihan tersebut. Hasil pemberitahuan tagihan ulang kepada pelanggan disampaikan mulai tanggal 21 desember 2004 sesuai dengan jadwal selesainya perbaikan dari bagian IT, melalui surat dan telepon secara resmi dari pihak Telkom.

c)      Comunnicating
Pada tahapan ini, dampak-dampak dari kasus Speedy harus disembuhkan, yaitu dengan cara mengembalikan citra perusahaan dan citra Speedy itu sendiri melalui komitmen antara pihak Telkom dengan pelanggan, tidak hanya membayar kelebihan tagihan tapi juga memberikan layanan Speedy yang lebih baik lagi. Upaya pengembalian citra publik pun, akan dilakukan melalui mengadakan pertemuan dengan pelanggan yang dimediasi oleh YLKI , serta mengadakan konferensi pers.



d)      Evaluating
Pada tahap terakhir ini, akan dilakukan penilaian terhadap kontrol yang sudah digunakan, ketepatan strategi yang digunakan apakah efektif atau tidak, selanjutnya dengan mengevalusi perkembangan kasus tersebut di masyarakat, apakah sudah teratasi atau belum, selain dengan dilakukannya meeting bersama setiap akhir minggu untuk mengevaluasi keadaan selama sepekan dengan mengikuti dan melihat perkembangan isu-isu yang sedang beredar di media, terutama di media cetak.[4]

Telkom Speedy adalah sebuah perusahaan yang menawarkan jasanya dalam bidang teknologi yaitu layanan broadband. Dalam pemasaran jasa, jasa PR harus mampu mengartikulasikan dan memprioritaskan setiap atau semua atribut yang di tawarkan oleh jasa atau organisasi dalam rangak mencapai nilai konsumen target dan posisi organisasi bagi keunggulan kompetitif konsumen, seperti gambar dibawah ini.[5]
 













           

            Untunglah pihak Telkom Speedy cekatan menindaklanjuti kasus ini sehingga tidak berepanjangan, meskipun diawal, pihak Telkom sedikit tidak merespon kasus ini.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
            Peran PR Telkom Speedy dalam menyelesaikan masalah ini adalah :
·         Dengan menggunakan proses public relation yaitu Facts Finding (Pengumpulan Data/Fakta), Action Plan/Planning (Perencanaan), Communicating (Komunikasi), dan Evaluating.
·         Mematikan semua koneksi Speedy para pelanggan, untuk menghindari kerusakan yang lebih banyak lagi.
·         Melakukan perbaikan dan modifikasi ulang sistem Speedy dalam waktu 12 hari, dimulai dari dikeluarkannyarelease yang ditandatangani langsung oleh Kadivre.
·         Untuk menghindari class action dari pihak pelanggan maka akan dihitung ulang semua tagihan Speedy yang bermasalah. Jika memang ditemukan adanya kesalahan tagihan, maka akan dikembalikan semua kelebihan tagihan tersebut. Hasil pemberitahuan tagihan ulang kepada pelanggan disampaikan mulai tanggal 21 desember 2004 sesuai dengan jadwal selesainya perbaikan dari bagian IT, melalui surat dan telepon secara resmi dari pihak Telkom.
·         Upaya pengembalian citra publik pun, dilakukan melalui mengadakan pertemuan dengan pelanggan yang dimediasi oleh YLKI , serta mengadakan konferensi pers.
·         Mengevalusi perkembangan kasus tersebut di masyarakat, apakah sudah teratasi atau belum, selain dengan dilakukannya meeting bersama setiap akhir minggu untuk mengevaluasi keadaan selama sepekan dengan mengikuti dan melihat perkembangan isu-isu yang sedang beredar di media, terutama di media cetak.

Akhirnya, Telkom berhasil menyelesaikan krisis tersebut dengan sistem billing yang telah dimodifikasi ulang dan pelayanan yang lebih baik lagi. Pelanggan Speedy pun semakin meningkat, yakni dari 10000 pelanggan hingga 15000 per Januari 2005, sebulan setelah sistem billing Telkom pulih.



DAFTAR PUSTAKA

Hadiati, Nikmah. 2012. PUBLIC RELATIONS. Pasuruan: Lunar Media.
Thoyibie, Lafif. 2010. PERAN PUBLIC RELATIONS. http://komunikasi-indonesia.org/2010/12/peran-public-relations/. (di akses tanggal 2 Nopember 2013).
Thoyibie, Lafif. 2010. PERANAN PUBLIC RELATIONS. http://komunikasi-indonesia.org/2010/12/peranan-public-relations/. (di akses tanggal 2 Nopember 2013).
Oliver, Sandra. 2006. STRATEGI PUBLIC RELATIONS. Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama.
Hidayat, Wicaksono. 2004. PELANGGAN SPEEDY MENJERIT. http://preview.detik.com/detiknews/read/2004/12/20/174400/259262/110/pelanggan-speedy-menjerit. (di akses tanggal 2 Nopember 2013).





[1] Aulia Alim, “Heart to heart strategy for a good Public Relations”, Slide Share, diakses dari http://www.slideshare.net/auliasupport/heart-to-heart-strategy-for-a-good-public-relations, pada tanggal 2 Nopember 2013.

[2] Wicaksono Hidayat, “Pelanggan Speedy Menjerit”, detikNews, diakses dari http://preview.detik.com/detiknews/read/2004/12/20/174400/259262/110/pelanggan-speedy-menjerit, pada tanggal 2 Nopember 2013.
[3] Sandra Oliver, Strategi Public Relations, PT. Gelora Aksara Pratama, Jakarta, 2006, hal. 11
[4] Nikmah Hadiati, Public Relations, Lunar Media, Pasuruan, 2012, hal. 50
[5] Sandra Oliver, Strategi Public Relations, PT. Gelora Aksara Pratama, Jakarta, 2006, hal. 82

0 komentar:

Posting Komentar