PEMIKIRAN HUKUM ISLAM (MADZHAB HANAFI DAN MADZHAB MALIKI)

on Jumat, 22 Agustus 2014
BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Sudah lima belas abad, Islam sebagai ajaran telah diturunkan ke muka bumi. Ajaranya tersebar luas, menerobos ruang dan waktu dari tanah kelahirannya di Timur-Tengah hingga kedataran Asia, Eropa, Afrika dan Amerika, sesuai dengan prinsip Islam sebagai agama yang kontekstual, mampu bertahan dan berkembang pesat dengan warna partikularitas dan universalitas. Islam mampu mengakomodasi lokalitas dan partikuralitas. Islam memang turun dan disempurnakan di tanah kelahirannya, keterbukaan Islam telah memberikan ruang untuk terus mengakomodasi kemoderenan dan keglobalan.            
Mazhab atau dalam bentuk jamaknya mazahib adalah suatu nama untuk para ulama mujtahid yang mempelajari kitab Allah (Alquran) dan mengumpulkan hadist-hadist nabi yang mereka ketahui serta mempelajari perkataan dan fatwa para sahabat, kemudian mereka mengeluarkan hukum-hukum dari semuanya itu, dan kemudian yang tidak mereka dapatkan dari nash yang shohih, mereka qiyaskan dengan yang sesuai menurut zaman, tempat dan kejadiannya, baik dengan cara istihsan, masholihul mursalah atau dengan 'uruf, semua itu dilakukan dengan mempelajarinya dari dalil-dalil yang ada bukan dengan syahwat dan hawa nafsu.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana kehidupan Imam Abu Hanifah?
2.      Bagaimana Madzhab Hanafi?
3.      Bagaimana kehidupan Imam Maliki?
4.      Bagaimana Madzhab Maliki?

C.    TUJUAN
1.      Untuk mengetahui kehidupan Imam Abu Hanifah.
2.      Untuk mengetahui Madzhab Hanafi.
3.      Untuk mengetahui kehidupan Imam Maliki.
4.      Untuk mengetahui Madzhab Maliki.

BAB II
PEMBAHASAN

         I.        MADZHAB HANAFI
Pada suatu hari, Imam Abu Hanifah bertemu dengan seorang murid sahabat Nabi terkemuka, asy-Sya’bi.
“Engkau hendak pergi kemana?”, tanya asy-Sya’bi.
“Saya hendak pergi ke pasar”.
“Saya tidak ingin engkau pergi ke pasar, akan tetapi saya ingin engkau pergi ke ulama”.
“Saya memang jarang sekali pergi belajar ke ulama”.
“Jangan lakukan itu, engkau harus mengkaji ilmu dan belajar kepada ulama, sebab saya menyaksikan di dalam dirimu suatu kesadaran (yaqadhah) dan kedinamisan (harakah)”.
Kemudian Imam Abu Hanifah bergumam di dalam dirinya: “Ucapan asy-Sya’bi sangat menyentuh hatiku, maka sejak itu aku tidak lagi ke pasar, dan sebaliknya, saya memperdalam ilmu. Allah SWT telah memberi manfaat kepadaku melalui ucapan asy-Sya’bi.[1]

A.    KEHIDUPAN IMAM ABU HANIFAH
Abu Hanifah merupakan imam pertama dari keempat imam  dan yang paling dahulu lahir  juga wafatnya, ia mampu memeperoleh kedudukan yang terhormat dalam masyarakat yang menghimpun factor-faktor positif dan factor-faktor negative, sehingga tidak heran ia di juluki Imam A’zham (pemimpin terbesar), ia juga dikenal sebagai fakih irak, dan imam Ar-Ra’y (Imam Aliran Rasional)
Beliau dilahirkan di kota Kuffah, pada tahun 80 H (699 M), beliau benama asli Nu’mam bin Tsabit Bin Zhauth Bin Mah, ayah beliau keturunan bangsa persi ( Kabul Afganistan) yang menetap di Kuffah, tsabit bapak dari abu hanifah lahir sebagai seorang muslim dan diriwayatkan dia berasal dari bangsa anbar. Adapula ia mukim di tirtmidz, ada lagi yang mengatakan ia bermukim di Nisa, bisa jadi ia bermukim di tiap-tiap kota itu sementara waktu. Ia adaalah seorang pedagang yang kaya dan taat beragama, sebagai mana ia pernah berttemu dengan ali bin Abi Thalib, lalu sang imam mendoakan dan keturunananya dengan kebaikan dan keberkahan.


B.     PENDIDIKAN IMAM ABU HANIFAH
Pada masa abu hanifah terdapat empat sahabat, mereka adalah: Anas bin Malik, Abdullah bin Abu Aufa, Sahl bin Sa’ad dan Abu Thufail, mereka adalah sahabat-sahabta yang paling akhir wafat, namun abu Hanifah tidak Berguru kepada mereka.
Mengapa tidak berguru kepada mereka?, mungkin diantara mereka ada yang sudah wafat sedang abu hanifah masih kecil, seperti Abdullah bin Aufa yang meninggal pada tahun 87 hijriyah sehinggga umur abu hanifah pada waktu  itu baru 7 tahun, dan seperti abu Sahl bin Sa’ad yang wafat tahun 88 atau 91 hijriyah dan umur Imam Hanafi baru berumur 11 tahun. Sementara Anas bin Malik wafat pada tahun 90 atau 92 atau 95 hijriyah dank ala itu abu Hanifah berumur 15 tahun dan belum mulai mencari ilmu, ketika itu beliau masih berdagang.

C.    DASAR-DASAR MAZHAB IMAM ABU HANIFAH
Mazhab abu Hanifah adalah gambaran yang hidup dan jelas bagi relevansi Hukum Islam dengan tuntutan masyarakat, beliau mendasarkan mazhabnya pada :
a)      Al-Qur’an: Alqur’an merupakan sumber pokok huku islam sampai akhir zaman.
b)      Hadits:  Hadits merupakan penjelas dari pada Al-Qur’an yang asih bersifat umum.
c)      Aqwalus shahabah (Ucapan Para Sahabat): ucapan para sahbat menurut Imam hanafi itu sangat penting karena menurut beliau para sahabat meupakan pembawa ajaran rasul setelah generasinya.
d)     Qiyas: beliau akan menggunakan Qiyas apa bila tidak ditemukan dalam Nash Al-Qur’an, Hadits, maupun Aqwalus shahabah.
e)      Istihsan: merupakan kelanjutan dari Qiyas. Epnggunaan Ar-Ra’yu lebih menonjol lagi,istihsan menurut bahasa adalah “menganggap lebih baik”, menurut  ulama Ushul Fiqh Istihsan adalah meninggalkan ketentuan Qiyas yang jelas Illatnya untuk mengamalkan Qiyas yang bersifat samar.
f)       Urf, beliaua mengambil yang sudah diyakini dan dipercayai dan lari dalam kebutuhan srta memeperhatikan muamalh manusia dan apa yang mendatangkan maslahat bagi mereka. Beliau menggunakan segala urusan (bila tidak ditemukan dalam Al-Qur’an ,As-Sunnah dan Ijma’ atau Qiyas ), beliau akan menggunakan Istihsan, jika tidak bisa digunakan dengan istihsan maka beliau kembalikan kepada Urf manusia.[2]

D. KARYA BESAR PENINGGALAN IMAM HANAFI
a)      Fiqh Akhbar
b)      Al ‘Alim Walmutam
c)      Musnad Fiqh Akhbar.

 II.      MADZHAB MALIKI
Diriwayatkan bahwa ketika Imam Malik hendak menulis kitabnya, ia berpikir tentang nama kitabnya. Imam Malik bercerita, “Aku tidur dan mimpi bertemu Nabi. Nabi bersabda kepadaku, “ilmu itu dipersiapkan untuk manusia”. Imam Malik pun  memberi nama kitabnya dengan al-Muwatha’ yang berarti dipersiapkan. Jika Imam Malik hendak mengajar hadis, maka terlebih dahulu masuk kamar, mandi, memakai harum-haruman, mengenakan baju baru, memakai sorban yang diletakkan di kepalanya. Setelah itu, Imam Malik keluar dan duduk di mimbar. Ia khusyu’ dan tidak pindah dari tempat duduknya sebelum menyelesaikan pengajian hadis.[3]
A.    RIWAYAT HIDUP IMAM MALIK
Mazhab Maliki didirikan oleh Imam  Malik yang bernama lengkap Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin Haris bin Gaiman bin Kutail bin Amr bin Haris al-Asbahi, lahir di Madinah pada tahun 713 M/93 H dan meninggal pada  tahun 796 M/179 H. Imam Malik berasal dari keluarga Arab terhormat dan berstatus sosial tinggi, baik sebelum datangnya Islam maupun sesudahnya. Leluhurnya berasal dari Yaman, namun setelah nenek moyangnya menganut Islam mereka pindah ke Madinah, kakeknya (Abu Amir) adalah anggota keluarga pertama yang memeluk agama Islam pada tahun ke dua Hijriah. Kakek beliau sebagai tabiian, banyak  meriwayatkan hadis dari Umar bin Khatob, Usman Bin Afan, Tholkhah bin Ubaidilah, dan Aisyah. Imam malik tidak pernah meninggalkan Madinah kecuali pada saat pergi Haji ke kota Makkah.
Imam Malik sudah  hafal al qur’an sejak usia  yang sangat  muda. Belajar dari Robiah ar Ro’yyi ketika masih muda.  Berpindah dah dari ulama satu keulma yang lain. Sampai bertemu dengan Abdurrahman bin Hurmus,  beliau ini  seorang tabiin, ahli qiroat, ahli hadis,  meriwayatkan hadis dari abu Huroiroh, Abu Said al Khudori,dan Muawiyah bin Abu Sofyan.
Kecintaannya kepada ilmu menjadikan hampir seluruh hidupnya diabdikan dalam dunia pendidikan, tidak kurang dari empat Khalifah, mulai dari al-Mansur, al-Mahdi, Harun ar-Rasyid dan al-Makmun pernah menjadi muridnya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa murid Imam Malik yang terkenal mencapai 1.300 orang. Ciri pengajaran Imam malik adalah disiplin, ketentraman dan rasa hormat murid terhadap gurunya.
Imam Malik mengawali pelajarannya dengan ilmu Riwayat Hadist, mempelajari fatwa para sahabat dan dengan inilah belai mengembakan mashabnya. Imam Malik berkata dalam Rasyid Hasan Halil.:
Ilmu itu adalah Agamamaka lihatlah dariman kalian mengambilnya, saya telah bertemu dengan tujuhpuluh orang yang mengatakan saya mendengar Rosulullah dekat tiang-tiang masjid ini, tiang masjid Nabawi, tetapi tidak satupun yang saya ambil. Seandanya salah seorang mereka dimintai menjaga sebuah rumah, pastilah mereka sangat dipercaya,  namun mereka bukan orang yang ahli dalam periwayatan hadist

Saya tidak duduk di kursi fatwa ini, kecuali sudah mendapat izin dari 70 puluh syeh yang ahli imu dan memang saya layak untuk itu. Keteka sudah mendapat kepercayaan, kemudian imam Malik duduk di  dalam Masjid Nabawi dan  memilih duduk ditempat Umar Bin Khotob dan tinggal di rumah yang pernah ditempati Abdullah bin Masud. Imam Malik memiliki dua Majelis: pertama: Majelis Hadis dan Kedua: Majelis Fatwa.
Lamanya beliau tinggal di Madinah dan ketokohan beliau dalam bidang Agama telah memberi andil  dalam tersebarnya mazhab Maliki. Banyak murid yang datang untuk belajar dari segala penjuru negeri Islam seperti dari Syam, Irak, Mesir, Afrika Utara, dan Andalusia. Semua datang berguru, dan dari merekalah Mazhab ini berkembang. Diantara muridnya adalah Abdullah bin Wahab yang berguru kepada imam Malik selama 20 tahun dan menyebarkan mazhab Hanafi di Mesir dan Maroko. Dan Muridny yang menulisMazhab Maliki dan meiwayatkan buku Al Muawato’ Karya Imam malik terbesar adalah bukunya Al-Muwatha’, yaitu kitab fiqh yang berdasarkan himpunan hadis hadis pilihan. Kitab ini ditulis pada masa khalifah al-Mansur (754-775 M) dan selesai di masa khalifah al-Mahdi (775-785 M). Semula kitab ini memuat 10 ribu hadis namun setelah diteliti ulang, Imam malik hanya memasukkan 1.720 hadis.

B.     PEMIKIRAN HUKUM IMAM MALIK
Imam Malik tidak hanya meninggalkan warisan buku, tapi juga mewariskan Mazhab fiqhnya di kalangan sunni yang disebut sebagai mazhab Maliki. Mazhab ini sangat mengutamakan aspek kemaslahatan dalam menetapkan hukum.
Sumber hukum yang menjadi pedoman dalam mazhab Maliki adalah:
1.      Al Quran, Mmerupakan sumber sariat bagi umat Islam
2.      Sunnah Rasulullah, Dalam mengisbat hukum dari sunah mengambil hadis mutawatir, hadis mashur dizaman tabiin atau tabit’tabiin, dan tidak mengambil setelah zaman itu.
3.      Amalan penduduk Madinah, Imam Malik berpendapat amalan penduduk Madinah merupakan hujjah, karna hal ini merupakan cermin dari  Rosulullah. Untuk menguwatkan pendapatnya  Imam Malik menukil pendapat gurunyaRobiah bin Abdurrahman, ”Seribu orang meriwayatkan dari seribu yang lain lebih baik dari pada hanya satu orang”.
4.       Fatwa Sahabat: Karena fatwa Sahabat adalah hadis yang haus diamalkan, jika memang benar perawinya, terutama dari Khulafaurrasyidin.
5.      Qiyas ,: Imam Malik menggunakan qioyas dengan makna menurut istilah, yaitu menggabungkan  hukum suatu masalah yang tidak ada nasnya dengan msalah yang sudah ada nasnnya. Karena ada persamaan dalam Illat-nya.
6.      Al mashalih al mursalah; Merupakan kemaslahatan yang tidak ada dalil yang menolak atau membenarkannya, dengan syarat mengambil demi menghilangkan kesusahan. al-Maslaha al-Mursal kemaslahatan yang tidak didukung atau dilarang oleh dalil tertentu.
7.      Sadd adz-dzara’i: sesuatu yang mengakibatkan perbuatan hararam adalah haram,  dan yang dapat membawa  yang halal adalah halal.[4]
Daerah-Daerah Yang Menganut Madzhab Maliki
Awal mulanya tersebar di daerah Madinah, kemudian tersebar sampai saat ini di Marokko, Aljazair, Tunisi, Libia, Bahrain, dan Kuwait.[5]

C.    KITAB-KITAB IMAM MALIKI
Karya-karya dari Imam Maliki di antaranya:
1.      Kitab Muwaththa, kitab yang termasyhur merupakan kitab yang mengandung hadist-hadist dan hukum.
2.      Kitab Mudawanah Al-Qubra, yang berisi fatwa-fatwa dan jawaban Imam Malik atas berbagai persoalan.[6]



BAB III
PENUTUP

Kesimpulan



DAFTAR PUSTAKA


Hariono, Nanang, 2013. Sem 3 - Ibadah - Makalah Madzhab-Madzhab Fiqh Islam dan Metode Fiqhnya: • Hanafi • Hambali • Maliki • Syafi’I”. http://nananghariyono.blogspot.com/2013/01/sem-3-ibadah-makalah-madzhab-madzhab.html. (diakses 14 Maret 2013).


Tim Penyusun MKD UINSA Surabaya. 2013. AKHLAK TASAWUF. Surabaya: UINSA Press.
Sudarto, Aye. 2013. MAZHAB HANAFI DAN MALIKI: DALAM HUKUM ISLAM DAN PENGARUHNYA DALAM PENGEMBANGAN EKONOMI ISLAM”. http://masdarrto.blogspot.com/2013/12/mazhab-hanafi-dan-maliki-dalam-hukum_2.html. (diakses 14 Maret 2014).




[1] Tim Penyusun MKD UINSA Surabaya, Akhlak Tasawuf  (Surabaya: UINSA Press, 2013) h.172
[3] Tim Penyusun MKD UINSA Surabaya, Akhlak Tasawuf  (Surabaya: UINSA Press, 2013) h. 187
[4]  Aye Sudarto, “MAZHAB HANAFI DAN MALIKI: DALAM HUKUM ISLAM DAN PENGARUHNYA DALAM PENGEMBANGAN EKONOMI ISLAM”, MAS DARTO, diakses dari http://masdarrto.blogspot.com/2013/12/mazhab-hanafi-dan-maliki-dalam-hukum_2.html, pada tanggal 14 Maret 2014 pukul 15.00.

[5]  Nanang Hariono, “Sem 3 - Ibadah - Makalah Madzhab-Madzhab Fiqh Islam dan Metode Fiqhnya: • Hanafi • Hambali • Maliki • Syafi’I”, NANANG HARIYONO, di akses dari http://nananghariyono.blogspot.com/2013/01/sem-3-ibadah-makalah-madzhab-madzhab.html, pada tanggal 14 Maret 2013 pukul 15.20.

[6] Ibid.

1 komentar:

nasywa mengatakan...

keterbukaan Islam telah memberikan ruang untuk terus mengakomodasi kemoderenan dan keglobalan? Tel U

Posting Komentar